Waktu itu sepertinya memang sudah tidak tertahankan lagi. Berpisah dengan teman-teman setanah air, pindah ke lingkungan baru yang 99%-nya orang Jepang dengan berbekal bahasa Jepang kelas upil, kagalauan akhirnya memaksa saya untuk ‘kabur’ ketika liburan Golden Week tiba. Tentu saja ini hanya sebuah aksi spontan. Mana ada orang galau yang mau pusing-pusing merencanakan liburan. Akhirnya, setelah semalam sebelumnya saya browsing sedikit, pergilah saya ke tempat wisata orang galau: pulau terpencil dengan curah hujan tinggi di selatan Kyushu, Yakushima.
Yakushima berjarak sekitar ¥5000 by ferry dari Pulau Kyushu. Perjalanannya sekitar 4 jam, bisa lebih cepat, kalau Anda rela bayar lebih. Di dalam ferry tersedia guide book gratis untuk para traveler: peta, info penginapan, restoran, aktivitas yang bisa kita lakukan di sana, lengkap dengan harganya. Tapi saya kurang tertarik dengan kegiatan “let’s explore nature” yang ditawarkan. Pertama, alasan klise, mahal. Saya tidak rela menghabiskan Rp 1 juta hanya untuk mendayung di sungai arus tenang bersama ibu-ibu PKK Jepang. Selain itu, saya punya kegiatan sendiri: saya akan bersepeda mengelilingi pulau! Menurut website tentang Yakushima, kita bisa memutari pulau dengan sepeda dalam 8 jam. Tapi karena penulisnya orang bule, yah, saya mungkin molor sampai 10-11 jam.
Demikianlah, hal pertama yang saya lakukan ketika tiba di Yakushima adalah mencari tempat rental sepeda. Tidak perlu jalan terlalu jauh dari pelabuhan, saya menemukan salah satunya. Tapi betapa kecewanya saya ketika melihat sepeda-sepeda yang disewakan. Bukan karena sepedanya butut atau bagaimana, sebaliknya, sepeda-sepedanya masih terlihat baru dan keren. Yang buat saya kecewa adalah frame sepeda yang terlalu tinggi. Sehari sebelumnya saya memakai sepeda sejenis, pinjam dari guest house di pulau Kyushu, dan saya mengalami kejadian yang sangat tidak menyenangkan ketika mengerem sepeda sialan itu. Jadi akhirnya saya memutuskan untuk naik bus dulu ke tempat camping di selatan Pulau. Mungkin di sana ada disewakan sepeda yang lebih ramah pada bangsa hobbit macam saya.
Dan saya pun menemukan satu. Agak pendek sih, tapi minimal aman untuk dikendarai. Lalu, dimulailah petualangan saya bersepeda keliling pulau. Saya memilih untuk berangkat ke arah barat, karena jalanan itu ditutup untuk bus, mobil juga jarang yang lalu-lalang. Yes! I’ve got my own road, that’s what I’ve been wishing for. Selain itu, di barat ada air terjun terbesar di Yakushima, ada hutan, ada pantai. Memakai jas hujan di tengah hujan rintik-rintik, dimulailah perjalanan saya berkeliling Yakushima.
Ah, menyenangkan sekali rasanya bersepeda tanpa perlu melipir-melipir ke sisi jalan takut tertabrak mobil. Hujan turun agak lebih deras sekarang, jas hujan pun jadi tidak berguna, sudah kepalang basah, saya tidak peduli. Saya lebih peduli dengan pemandangan di sekitar saya. Tengok kiri, laut. Tengok kanan, hutan dengan pohon-pohon berusia ratusan tahun. Lihat depan, wow! Bukit-bukit terhalang kabut tipis. Indah sekali. Terlihat misterius dan terkesan agung, mirip pemandangan kuil Airbender di serial kartun Avatar. Sesekali terlihat monyet kecil di tepi jalan, cuma melongo melihat saya lewat. Saya juga sempat beberapa kali melihat rusa, tapi mereka jauh lebih penakut dari monyet, langsung lari ketika saya datang.
Perjalanan ini pasti akan sangat menyenangkan kalau saja saya naik sepeda gunung yang bagus. Ah, bahkan dengan sepeda keranjang yang biasa saya pakai untuk belanja pun, pasti akan berkali-kali lipat lebih menyenangkan. Seperti yang sudah saya bilang, sepeda yang saya pakai itu pendek. Pendek, kecil, jalannya jadi lebih lambat dan lebih berat. Dan sialnya, jalan ke barat itu banyak sekali tanjakannya. Dan sialnya lagi, tanjakannya panjang-panjang. Gear shift sepeda sepertinya cuma hiasan saja, sama sekali tidak berfungsi. Pada akhirnya, saya harus menyerah dan berhenti mengayuh, ganti berjalan kaki sambil mendorong sepeda, berharap cepat-cepat ada turunan lagi. Yah, setidaknya di sini saya benar-benar belajar bahwa jalan itu tidak selamanya tanjakan, ada turunan juga, dan tidak selamanya jalan menanjak itu menyenangkan, terutama jika beban yang dibawa terlalu berat (dalam kasus saya, sepeda).
Dan begitulah seterusnya. Ketika turunan, saya happy lagi, saya kayuh sepeda saya kencang-kencang. Ketika tanjakan, saya manyun lagi, memaki-maki si penulis website yang ngasih info setengah-setengah, tidak memperingatkan soal tanjakan, tidak memberi tips kalau mau keliling pulau sebaiknya ke arah timur, jangan ke barat. Juga tidak lupa saya memaki dinas pariwisata sana, yang menutup jalan hanya untuk bus. Seharusnya jalan juga ditutup untuk sepeda! Dan di tengah-tengah semuanya itu, saya malah terngiang-ngiang terus lagu Titanic. “Far across the distance…” Arrghh!!
Akhirnya saya berhasil keluar dari hutan dan perbukitan, dan sampai di daerah pantai yang jalanannya agak lebih manusiawi. Berapa kilometer sampai akhirnya saya bisa keluar dari jalanan tega di belakang saya? Tiga puluh kilometer! Biasanya naik sepeda tiga kilometer saja, saya sudah tepar. Ini 30 kilometer, belum lagi kehitung jalannya. Memang, kalau survival instinct manusia sudah diuji, dia bisa melakukan hal tidak biasa. Berapa jam yang saya butuhkan untuk bersepeda seperempat keliling pulau? 4 jam! Ah, bule sial. Bisa berkeliling pulau dalam 8 jam, untuk Anda yang kemauannya kuat? Hhh…
Karena tidak mungkin lagi meneruskan ide gila berkeliling pulau yang masih tiga perempat jalan, saya balik lagi ke jalan sebelumnya, berharap bisa cepat sampai ke tempat kemah, dan tidur. 30 kilometres to go!
Perjalanan pulang lebih menyenangkan dari saat berangkat. Ada beberapa tanjakan, tapi turunannya lebih banyak dan lebih panjang. Tanpa perlu capek-capek mengayuh, sepeda saya melaju dengan kencang. Maksud saya, benar-benar kencang. Saya bahkan hampir mengejar mobil yang ada di depan saya. Dengan tebing di kanan, dan jurang di kiri, adrenalin saya benar-benar terpacu. Dan seperti yang biasa dilakukan banyak orang di saat seperti ini, saya cuma bisa berteriak “Mamaaah….!!”
-madhand-
kocak sial hahahahah!!!
lucuuuuuu abis
tapi kalau mw kasi saya tiket grtis pasti lbih lucu