Diary: Tanda Jejak

Posted: 5 May 2011 in Uncategorized

Apa yang muncul dalam pikiran kamu saat mendengar kata “diary”? Teringat kenangan teman sekelas SD yang membawa buku diary ke sekolah terus ‘kebaca’ oleh teman-temannya dan berakhir dengan si anak mewek gara-gara rahasia cinta pertamanya terbongkar? Atau tanpa berpikir langsung mengernyit bibir “Duh, diary… Buku curhat. Cupu!”? Atau jadi teringat lagu jadulnya M2M dan Ratu, Dear Diary? Atau malah teringat sama coklat Diary Milk? (Iya, tahu. Dairy Milk. Iya, tahu. Garing.)

Diary yang dihantui image “too girly”-nya menjadi sulit untuk populer di kalangan pria pejantan tangguh. Di kalangan wanita juga, cool-woman-wanna-be pastinya akan menganggap menulis diary hanya akan menurunkan kadar keren dalam dirinya, lagi-lagi karena image “too girly” yang entah nempel sama si diary ini sejak kapan. Dan tentu saja, yang ini sudah tidak terbantahkan lagi, diary sama sekali tidak populer di kalangan mereka yang beralasan kalau diary cuma buang-buang waktu, masih banyak hal lain yang bisa dikerjakan, dan bleh-bleh-bleh ­– mereka yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia termasuk dalam kategori pemalas, mereka yang segolongan dengan saya.

Sejak kecil saya tidak pernah menulis diary. Saya sempat membeli beberapa buku diary, karena covernya yang lucu dan kertasnya yang berwarna-warni, tapi di tangan saya buku-buku diary tersebut berakhir menjadi buku catatan matematika dan catatan ekskul pramuka. Saya tidak pernah menganggap menulis diary itu penting, atau coretlah kata penting, minimal bisa berguna untuk nanti. Bagi saya saat itu, matematika lebih berguna, tri satya dan dasa dharma lebih berguna. Tapi saya keliru. Diary bisa berguna, dan dalam kasus saya, bisa sangat berguna.

Kapan saya menyadari hal ini? Yaitu ketika saya iseng-iseng membuka blog yang saya tulis satu tahun yang lalu. Ada satu tulisan yang bercerita tentang pengalaman saya, lebih tepatnya pemikiran saya, saat pertama memutuskan datang ke Jepang. Tanggal postingannya tepat satu tahun yang lalu: 5 May 2010. I was shocked. Saya seperti membaca tulisan orang lain. Bagaimana mungkin saya pernah menulis seperti ini? Saya pernah berpikir seperti ini? Ini saya satu tahun yang lalu? Yang benar saja! pikir saya. Saya yang akhir-akhir ini sering berpikir “What the hell am I doing here?”, membaca tulisan itu rasanya seperti ditonjok. Dibangunkan. Disadarkan. Bukan oleh siapa, tapi oleh saya satu tahun yang lalu, yang impiannya masih fresh, semangatnya masih utuh. Bayangkan jika kamu menemukan tulisan semasa SMA, yang masih belum mengenal logika dalam bermimpi, walaupun impianmu sekarang sudah berbeda dengan impian saat SMA, saya yakin kamu akan menemukan sesuatu. Mereka bilang pencerahan. Saya bilang tonjokan.

Bayangkan kamu pergi ke sebuah daerah – kota besar atau hutan belantara, silahkan bayangkan sesukamu. Tujuanmu sudah jelas. Misalnya, lapar, ingin pergi ke restoran enak – atau, ingin melihat air terjun. Tidak ada peta. Tentu saja tidak ada peta. Karena itu jangan berharap jalanmu lancar sampai tujuan tanpa tersesat. Tapi ada cara agar kamu tidak tersesat terlalu jauh, ada cara agar kamu tidak usah berputar di tempat yang sama, frustasi, dan akhirnya berhenti. Ya, buat tanda jejak. Tandai tempat yang sudah kamu lewati. Tahu asal, tahu tujuan, langkahmu akan lebih ringan dan lebih tegap.

Si “buku curhat” bisa menjadi tanda jejak yang sangat berguna – mengingatkanmu ketika kamu lupa baru sedekat apa kamu berjalan atau sudah sejauh apa kamu berjalan, dan akan sangat tidak keren jika kamu berhenti sekarang.

Jika kamu belum membuatnya, buatlah Tanda Jejak-mu mulai dari sekarang. Terserah mau kamu namakan apa: diary, jurnal, blog. Pikiranmu sekarang, tulislah. Rasa frustasi, pengharapan, kegagalan, impian, atau cerita hidupmu sehari-hari. Karena mungkin itu akan berguna. Bukan sekarang, tapi nanti di masa depan, lima atau sepuluh tahun dari sekarang kisah sedihmu hari ini mungkin akan kamu baca dengan senyum kemenangan, impianmu hari ini tanda jejak untukmu di masa depan. Tulislah. Semacam surat untukmu di masa depan.

-madhand-

Comments
  1. hanna says:

    annaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…… suka suka suka :p

  2. winamp says:

    akhirnya nulis lagi…dulu bilangnya bakal sering nulis kalo udah tinggal disana…ternyata jadinya setaun sekali hahha…..>,<..

  3. wina says:

    hohoho…katanya mau sering2 deh… jadina stahun sekali wkwkw…sibuk bgt ya dsana hihi…we all miss u guys..

  4. anasjoy says:

    tulisannya keren… saya suka saya suka

  5. eru says:

    nice posting! tulisannya bagus sekali, luar biasa! :)
    saya dulu juga blogger, paling senang nulis gak jelas, sok-sok berkomedi ala Raditya Dika. eh, setelah blog-nya ketahuan sama teman sekelas jadi malu dan gak nulis lagi, haha. alhasil sekarang saya jadi menulis diary, yang sifatnya lebih untuk pengingat bagi diri sendiri, bukan untuk di-share. memang betul, beberapa kali saya merasa “ditonjok” oleh diri saya yang lama. cukup “sakit” memang, tapi kita tak bisa “bangun” kalau belum “terjatuh”, bukan?
    diary memang sangat berguna, meski mungkin kita harus meluangkan atau bahkan mencari waktu untuk menulis. ya, dan menulis blog lebih bermanfaat, bisa sekaligus mengingatkan orang lain (seperti yang dilakukan Anda dengan tulisan ini, saya benar-benar tersentuh, sungguh!) namun saya tampaknya belum siap kembali menjadi blogger, cukup mengingatkan diri sendiri dulu, karena saya pun masih banyak kekurangan, hehe

    akhir kata, salam hangat untuk negeri sakura dan nihonjin-nihonjin di sana :) ohya, dan salam kenal :D hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s