My 2009

Posted: 5 May 2010 in Monbusho Scholarship
Tags: ,

Bagaimana perasaan saya saat pertama kali melangkahkan kaki keluar dari pintu Narita Airport? Terus terang, biasa saja. Saya sendiri agak bingung kenapa bisa begitu. Saya sudah membayangkan saya akan berlari keluar dari pintu Narita Airport sambil meneriakkan “Yatta! Gw ada di Jepang sekarang!” mengingat bisa-datang-dan-tinggal-di-Jepang merupakan impian saya sejak masih kecil. Saya sudah membayangkan wajah saya akan dibanjiri air mata bahagia mengingat tahun 2009 macam apa yang harus saya alami untuk mendapatkan tiket kuliah ke Jepang ini.

Tahun 2009. Lima bulan pertama tahun ini berlangsung seperti biasanya.

  • Kuliah: ada tugas dikerjakan, ada ujian belajar. It sounds simple, but emm…
  • Berteman: maksudnya killing time with my friends yang, thanks God, punya selera joke di atas rata-rata. Those were really good moments to remember.
  • Kalau kangen rumah, pulang.

Bermalam di warnet, tidur seharian di kamar kost, main game sampai tangan kaku dan mata kunang-kunang sudah menjadi hal yang biasa saya lakukan waktu itu. Sampai akhirnya saat itu tiba. Pertengahan Juni, saya sedang mengikuti Ujian Tengah Semester yang berlangsung selama 2 minggu di kampus saya pada waktu itu. Dan entah kenapa, di tengah-tengah ‘keasikan’ belajar untuk persiapan ujian, saya jadi teringat beasiswa Monbusho. Sebelumnya, saya memang pernah mempertimbangkan untuk ikut beasiswa ke Jepang lagi (tahun sebelumnya saya pernah mendaftar tapi gagal), tapi tidak secepat ini. Mungkin 5 tahun lagi, untuk beasiswa S2.

Waktu itu, untuk membuka situs Kedubes Jepang saja saya harus ber-”ragu-ragu” terlebih dahulu dan setelah membaca situsnya, saya jadi semakin ragu: saya apply beasiswa Monbusho lagi tidak ya. Kegagalan tahun sebelumnya sama sekali bukan pengalaman yang menyenangkan, efeknya juga agak menyebalkan, karena di kepala saya jadi muncul pertanyaan baru “Bagaimana kalau saya gagal lagi?” Hal yang membuat saya semakin ragu adalah saya sudah mulai menyukai kehidupan saya waktu itu: lingkungan yang nyaman, teman-teman yang menyenangkan, dan masa depan yang terjamin. Orang tua saya juga tidak akan suka kalau saya mendaftar: kehidupan saya sudah ‘aman’, kenapa harus mencari-cari ‘kesulitan’. “Jalan yang sekarang sedang ditapaki sudah benar, tinggal terus berjalan saja. Tidak perlu mencari jalan setapak lain.” Kakak saya juga tidak akan suka kalau saya mendaftar: kakak saya seorang tentara dan kesempatan untuk pulang ke rumah tidak seperti saat dia masih belajar di akademi. Kalau saya ke Jepang, siapa yang  akan merawat orang tua kami nanti. “Apa tidak terlalu egois?”

Akan tetapi, pada akhirnya, saya memutuskan untuk mendaftar beasiswa Monbusho untuk kedua kalinya. Bagaimana kalau gagal lagi?  So what, saya pernah gagal, dan pada akhirnya semuanya baik-baik saja. Menangis 3 hari, murung 1 minggu, lalu hidup lagi seperti biasa. Tersenyum lagi, tertawa lagi. Inilah pikiran yang membulatkan tekad saya untuk mendaftar beasiswa Monbusho lagi: “Ini terakhir kalinya saya mencoba. Saya bersumpah setelah ini saya tidak akan menengok lagi ke belakang. Saya akan berjuang dan memberikan yang terbaik di jalan saya sekarang. Tapi saya mohon biarkan saya mencoba lagi, karena kalau tidak, saya akan menyesali keputusan saya untuk menyerah seumur hidup saya.”

Perjalanan untuk mendapatkan beasiswa Monbusho pun dimulai. Satu bulan terhitung sejak saya mengirimkan dokumen ke Bagian Pendidikan Kedubes Jepang, saya ditelepon pihak Kedubes untuk mengikuti tes tertulis yang akan diadakan 2 minggu lagi di Kampus UI Depok. Saya senang sekali waktu itu. Tahun sebelumnya, saya sama sekali tidak mendapat panggilan untuk ujian tertulis. Tapi, rasa senang itu tidak berlangsung lama, saya harus secepatnya mempersiapkan diri untuk tahapan tes berikutnya. Waktu saya hanya 2 minggu untuk belajar Matematika dan Kimia. Saya sudah berhenti belajar Matematika dan Kimia sejak kuliah hampir 1 tahun di jurusan Akuntansi. Bagaimana rasanya mengulang pelajaran Matematika dan Kimia selama 3 tahun hanya dalam 2 minggu sambil masih harus kuliah dan mengerjakan tugas kuliah? Rasanya: Wow! I’m so dead! Selama 2 minggu itu, saya terus belajar hingga dini hari. Dan agar termotivasi, saya terus-menerus mengulang video audisi Alexandra Burke (pemenang X Factor 2008). Lihat saja seperti apa videonya. Anda akan tahu kenapa saya bisa termotivasi.

Hari ujian.  Ujian Matematika 60 menit. Ujian Kimia 60 menit. Pulang. Menunggu 1 bulan. Ditelepon untuk wawancara. (soal wawancaranya seperti apa, saya sudah pernah menceritakannya di tulisan sebelumnya)

Keesokan harinya setelah wawancara, saya dihubungi pihak Kedubes untuk segera menyiapkan dokumen-dokumen yang akan dikirimkan ke Jepang: ijazah, nilai ijazah, rapor, surat keterangan dari kampus dan sekolah, surat rekomendasi, dan surat keterangan dokter. Semuanya dalam bahasa Inggris. Hari Rabu saya ditelepon, hari Senin surat-suratnya sudah harus ada di meja Bagian Pendidikan Kedubes Jepang. Sementara, minggu itu saya harus mengikuti Ujian Akhir Semester sampai hari Jumat. Jadi, saya hanya punya waktu 2 hari untuk mengurus surat-surat ke sekolah dan ke rumah sakit. Dua hari yang sangat melelahkan dan benar-benar membuat saya frustasi. Kalau bukan karena ibu saya, saya pasti sudah menyerah saat itu.

Setelah berhasil melengkapi dokumen-dokumen yang akan dikirimkan ke Jepang, hal berikutnya yang harus saya lakukan adalah menunggu. Hanya bisa menunggu, tidak bisa melakukan apa-apa lagi, tidak bisa mengusahakan apa-apa lagi. Sangat menyebalkan berada dalam situasi seperti itu. Empat bulan lamanya saya menunggu. Dan hasilnya: saat ini saya sedang menulis blog di salah satu kamar sempit di sudut kota Tokyo.

Begitulah perjuangan saya untuk mendapatkan beasiswa Monbusho. Motivasi datang dan pergi. Ada saatnya kita ingin berhenti saja dan melanjutkan kehidupan yang tenang seperti biasa. Tapi pada akhirnya saya bisa mengatakan: saya bersyukur saya tidak menyerah. Banyak hal lain yang saya syukuri sepanjang perjalanan mengejar impian kuliah ke Jepang. Yang terutama, saya bersyukur saya gagal seleksi Monbusho tahun sebelumnya. Karena itulah, saya bisa mengenal teman-teman kuliah saya, yang saya harap bersedia menjadi teman saya untuk selamanya. Satu tahun bersama mereka adalah tahun terbaik yang pernah saya alami sampai sekarang. Di tahun 2009 itulah, saya jadi tahu bahwa friendship itu keren, bahwa first love itu indah.

His decision to make you fail may break your heart. But in the end, you’ll see that He is the Best Script Writer ever!

Just don’t give up so easily…

-madhand

Comments
  1. adita cute beud says:

    first love?????????????????

  2. wina says:

    denger ceritamu,satu kata asik..masih ingat urg?..tmn2 kulmu mnyenangkn.. dl ak smpt iri…
    tp skrg disini mulai enjoy, tidak lagi mengeluh..tidak lagi. ,, makasih smpt jd tong sampah urg…
    ganbatte…
    eh monbusho..ada beasiswa bwt para guru..mskpn cm 1 thn..tp msti pny pnglmn 5 thn dl..jd kpikiran..
    bisa gk ya..:)
    semoga..hehe…

    • madhand says:

      baguslah dah bisa adaptasi… buseeet, gw disebut tong sampah!!!
      hehe. sama-sama.

      he’em. coba aja. kalau berusaha keras, pasti nanti Tuhan juga terharu dan ngasih jalan…

  3. friesca says:

    surat keterangan dari kampus dan sekolah isinya tentang apa ya? makasih

  4. eru says:

    sekarang mungkin saya berada di posisi yang sama seperti Anda di tahun 2009 :)
    bulan Juli lalu saya cuma berhasil lolos seleksi berkas S1 monbusho, gagal di ujian tulis -yang soalnya seperti mimpi buruk. dan detik ini saya sedang duduk di asrama sebuah universitas yang prospek ke depannya cukup menjamin masa depan saya; nyaman; orang tua pun mendukung penuh saya di sini. tapi entah kenapa di hati besar ini (jujur, bukan hati kecil lagi) mimpi untuk belajar di Jepang itu masih ada. dan setelah membaca posting-an ini, saya putuskan untuk tidak berhenti mengejar mimpi masa kecil saya itu! :D mohon doanya ya, semoga saya bisa mewujudkannya tahun depan :)

    ditunggu post2 selanjutnya! :)

  5. Irsyad R. says:

    kak, mau tanya lagi, maaf, kalo yg di surat keterangan dokter, yg dites waktu di dokternya apa aja kak?

    • madhand says:

      apa ya.. kenapa gitu? sama kedubes nanti dikasih lw musti check apa aj. udah lupa apa aj. macam general check up

  6. Irsyad R. says:

    oh gitu ya kak. Sy nanya soalnya sy buta warna sebagian, nah itu takutnya malah ngga bisa. Makasih banyak ya kak infonya….

  7. Gery O says:

    Bro,gw pengen nanya nih setelah lulus test wawancara emang ada test international gitu ya?soalnya kemaren gw pas test monbu untuk program d3 kata panitia monbu nya ada test international gitu abis test wawancara,bener ga tu bro?thanks before bro

    • madhand says:

      tes internasional? pasti maksudnya selekasi dokumen tahap akhir.
      klo lw lulus wawancara, lkw bakal diminta sm kedubes buat ngelengkapin dokumen2, nanti dikasih rinciannya pas wawancara.
      dokumennya bakal dikirim ke jepang, diseleksi brg yg negara lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s