Ga Jelas di Negeri Orang

Posted: 19 October 2011 in Life in Japan

Apa enaknya pergi ke negara yang orang-orangnya ‘ga ngeh’ sama bahasa Indonesia? Yep, bisa bebas ngomong apaaa saja. Kamu mau ngomongin hal-hal aneh di siang bolong, bisa. Mau ngomong bodoh kayak “Aduh pengen kue itu, tapi kalorinya banyak. Aduh tapi pengen, eh liat dompet dulu, tapi eh…” ga bakalan ada yang nge-ckckck-in kamu deh, kecuali kalau pas kamu begitu saya kebetulan lewat. Mau bilang makanan restoran ga enak dan porsinya terlalu kecil tepat di depan muka pelayannya, bisa! – kalau saya pribadi sih, jangankan di negara asing, di Indonesia juga sudah begitu. Bayar gitu lho!

Tapi ya, yang paling enak di antara semua privileges yang bisa kamu dapat jika pergi ke tempat yang jauh dari khatulistiwa, kamu bisa bebas ngomongin orang, ngga perlu main belakang-belakangan, ngga perlu main bisik-bisikan, langsung ngomong di depan orangnya – ngga baik ngomongin orang dari belakang. I know it’s childish, but you don’t wanna miss the fun. Kapan lagi kita bisa begitu?

Di suatu tanggal di bulan Desember, saya sedang naik kereta hendak pergi ke Shibuya. Jangan “wuih” dulu, cuma mau window shopping kok, saya yakin sekali pas bulan Desember sedang tak ada uang, lagipula kapan saya pernah tidak bokek (meratap dulu). Lalu ada mbak Nihonjin (orang Jepang) masuk gerbong, dan karena tidak kebagian tempat duduk, dia berdiri di depan saya. Kebetulan waktu itu dia sedang memakai rok mini. Saya memulai percakapan, “Mbak, roknya pendek banget.” – pura-pura lihat poster iklan – “Ngga dingin ya? Ya ampun, kulitnya sampai merah-merah begitu lho Mbak.” Iya, tahu, ga jelas, tapi yang penting batin ini terpuaskan.

Kadang-kadang kalau sedang bosan menunggu dan tidak ada kerjaan lain, saya dan teman seringkali men-dubbing obrolan Nihonjin yang suliweran di jalan, mulai dari om-om kantoran, anak kecil, sampai pasangan yang sedang bertengkar. Dan di antara semua objek dubbing-an, tentu saja kami sangat menikmati yang terakhir. Oh, drama! Tapi hati-hati, siapa tahu orang yang kamu omongin mengerti bahasa Indonesia, seperti kejadian yang pernah dialami beberapa teman saya. Lagi asik-asik komentar tentang Nihonjin (look alike) yang baru masuk toko, eh orangnya balas “Oh.. gitu ya. Asalnya darimana, Mbak?” Nah lho. Makan tuh cupu!

Apa enaknya pergi ke negara yang berbeda rasnya dengan kita? Kita langsung dikenali sebagai orang asing – dan Jepang adalah negara yang termasuk toleran terhadap orang asing, terutama di kota-kota besar seperti Tokyo dan Osaka. Kamu bisa melakukan apa saja, modalnya ya itu, ga-tahu-malu. Mau nyanyi-nyanyi di jalan, silahkan. Mau pakai piyama belanja ke Tesco, silahkan! – I did it once. Mau pakai baju nabrak sana-nabrak sini, silahkan, pasti bakal ketemu kok dengan orang yang lebih parah di jalan. Atau janjian dengan teman, pakai baju merah-kuning-hijau macam lampu lalu lintas, your choice!

Salah satu kejadian paling malu-maluin dilakukan teman saya saya saat naik kereta di sekitar Tokyo. Ucuup… gw tahu lw capek, oke, ngerti kalau lw ngantuk, tapi please, jangan tiduran di lantai kereta. Getahnya, dia diberi ceramah gratis oleh Nihonjin saat turun dari kereta. Rasakan itu! Intinya, makin kamu ga-tahu-malu, makin kamu ga mengerti bahasa Jepang, makin bagus. Asal harus tahu batas, jangan keterlaluan. Karena ga-tahu-malu, lalu buang sampah sembarangan, menerobos antrian, itu sudah keluar batas. Ya, malu-maluinnya yang having fun lah, sekadar buat ketawa-ketiwi with the gank. Jangan lupa juga kalau kamu itu tamu, ada budaya yang harus kamu hargai dan ada nama baik bangsa yang harus kamu jaga.

 -madhand-

Karena masih banyak yang bingung bagaimana cara melamar beasiswa Monbusho (selanjutnya akan saya singkat ‘Monbu’), di sini saya akan menjawab pertanyaan yang banyak ditanyakan calon-calon kouhai yang masih ketinggalan pesawat di tanah air.

Kak, gimana sih persiapannya biar keterima Monbu?

Kamu mungkin pernah melihat tulisan ini di website Kedubes Jepang:

“Pendaftaran Beasiswa Monbukagakusho bagi lulusan SLTA dan Sederajat untuk keberangkatan tahun 2012 dibuka pada tanggal 9 Mei 2011 dan akan ditutup pada tanggal 10 Juni 2011.”

Lalu, apakah ini peluit start Monbu buat kamu? Kalau ‘iya’, berarti kamu rela tiket gratis pp Soeha-Narita diambil orang lain, berarti kamu rela uang bulanan ¥123,000 dibelanjakan orang lain di Shibuya dan Harajuku, berarti kamu dengan bodohnya melepaskan pendidikan gratis senilai jutaan yen untuk orang lain yang sebenarnya bisa kamu dapatkan jika sekali ini saja kamu benar-benar serius berusaha.

Lalu kapan persiapan untuk Monbu dimulai? Untuk menjawab ini, kita lihat lagi syarat melamar Monbu: rata-rata nilai ijazah atau rapor kelas 3 semester terakhir masing-masing minimal 8,4 untuk S1 dan 8,0 untuk D3/D2. Yes! Gila-gilaanlah saat kelas 3 semester 2. Kalau lebih awal dari itu, lebih bagus! Bersyukurlah, karena nilai yang diminta cuma nilai semester 2 kelas 3, tidak seperti syarat PMDK ke perguruan tinggi di Indonesia, yang mengharuskan record bagus tak bernoda dari kelas 1. Ini kesempatan buat kamu yang selama ini cuma setor tampang ngantuk di kelas. Buat kamu yang nilainya melipir-melipir ke angka 6 saat kelas 1-2, menggila-lah saat semester terakhir kamu di SMA. Saya yakin 80% penyumbang dana terbesar nilai jelek kamu itu adalah penyakit malas akut. Malas bangun lebih pagi, malas mendengarkan penjelasan guru di kelas, malas pergi ke perpustakaan, malas belajar sampai tengah malam. Kenapa? Tidak mau disebut geek atau kutu buku? So what, you’re a geek, but you’ve got ¥123,000 transferred into your bank account every month!

Dan tidak lupa, jangan meraih nilai di atas rata-rata dengan menyontek. Itu menjijikkan. Belajarlah dan berjuanglah dengan fair. Lagipula, tidak ada orang yang bangun di pagi hari, lalu tiba-tiba menjadi pintar, semuanya perlu usaha. Ketika Avada Kedavra menjadi kutukan tak termaafkan di dunia sihir, menyontek adalah perbuatan tak termaafkan di Jepang.

Kak, saya anak SMK, apa bisa daftar Monbu juga?

Tentu saja. Kenapa tidak. Seperti tertulis di syarat melamar Monbu: “Pendaftaran Beasiswa Monbukagakusho bagi lulusan SLTA dan Sederajat…”. Kalau kamu berhasil lulus seleksi D3 Monbu, kamu malah punya nilai plus jika dibandingkan dengan lulusan SMA yang masih pelanga-pelongo di laboratorium.

Apa kalau nilai rata-rata rapor sama ijazah udah sesuai syarat, saya pasti bakal dipanggil buat tes tertulis?

Saya bukan panitia penyeleksi jadi saya tidak bisa menjawab pertanyaan ini dengan pasti. Saya juga tidak tahu-menahu standar apa yang mereka pakai saat menyeleksi lamaran-lamaran yang masuk. Tapi, seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, lamaran Monbu D3 pertama saya ditolak, tapi lamaran kedua saya diterima, padahal nilainya masih yang itu-itu juga.

Saat lamaran pertama, saya melamar untuk jurusan Fisika, padahal nilai UN Fisika saya di bawah 8,0. Saat melamar kedua kalinya, saya pikir mungkin saya salah di sana, jadi saya banting stir ke jurusan Kimia karena nilai rapor dan UN Kimia & Biologi saya di atas 8,0. Toh yang saya kejar waktu itu bukan jurusannya tapi beasiswa ke Jepangnya. Soal jurusan, pikir saya, nanti juga bisa cinta karena biasa. Dan itu terbukti sekarang.

(Program D3) Kak, saya bingung sama bidang-bidang studi yang ditawarin buat College of Tech (Kousen)? Gimana milihnya nih?

Jurusan buat D3 dibagi dalam 2 kelompok besar: Fisika dan Kimia. Kelompok Fisika mencakup “Mechanical Engineering”, “Electrical and Electronic Engineering”, “Information, Communication, and Network Engineering”, “Architecture and Civil Engineering”, dan “Maritime Engineering”. Kimia hanya mencakup “Materials Engineering”.

Jika pilihan pertama kamu kandangnya ada di bagian Fisika, saat ujian tertulis nanti kamu akan diberi soal Matematika dan Fisika. Dan begitu juga halnya dengan Kimia. Jika pilihan pertama kamu ada di bagian “Materials Engineering”, kamu harus belajar Matematika dan Kimia untuk ujian tertulis nanti.

Intinya, kamu memilih kelompok Fisika saja atau Kimia saja. Saat melamar Monbu, pilihan 1 dan 2 saya ada di jurusan Kimia, sementara pilihan 3 saya ada di jurusan Fisika. Lalu Pak Kabul (pegawai Bagian Pendidikan Kedubes Jepang) menghubungi saya kalau saya ada keliru di bagian itu. Alhasil, cuma dua pilihan yang dipertimbangkan untuk Monbu. Tuh kan, kesalahan saya di masa lalu bisa jadi pelajaran buat kamu-kamu sekarang. Jadi, jangan takut-takut buat salah.

Oh iya, berikut ini adalah fakta-fakta soal Major College of Tech yang saya temukan setelah sampai di Jepang:

  • Kelompok Fisika, terutama Mechanical Engineering itu minim cewek. Di sekolah saya, kelas mekanik yang seangkatan dengan saya tidak ada murid ceweknya sama sekali. Di kousen yang lain juga begitu. Di beberapa tempat yang agak mendingan, murid ceweknya bisa dihitung dengan jari kaki. Jurusan Fisika yang murid ceweknya agak banyak adalah “Architecture and Civil Engineering”. Jadi, buat kamu yang ingin dikelilingi cowok-cowok Jepang saat belajar di kelas, silakan memilih jurusan Fisika.
  • Jurusan yang ada di kolom kanan, bisa dipilih lagi saat kamu belajar di Jepang. Yang penting itu, kamu anak Mekanik, anak Listrik, ataukah anak Material. Penjurusan bisa diganti lagi, sesuai minat dan nilai-nilai kamu setelah 1 tahun belajar di kousen.
  • Ketika ditanya jurusan mana yang lebih unggul, saya tidak bisa menjawabnya dengan pasti, karena jurusan unggulan masing-masing kousen itu beda-beda. Misalnya di sekolah saya, yang unggulan itu jurusan Material Engineering. Beberapa sensei di sini kadang-kadang bercanda “lebih baik kamu pindah saja ke jurusan Arsitektur” ketika ada murid yang tidak bisa menjawab pertanyaan mudah. Tapi, di kousen lain, yang unggulan itu justru jurusan Arsitektur. Semoga saja jurusan kamu pas jadi unggulan di kousen nanti. Apa untungnya? Kamu bisa bertemu lebih banyak orang yang pintar, dan tidak lupa rajin luar biasa, jadi kamu bisa tertular semangat belajar mereka dan jadi lebih pintar. Bukankah itu alasan kamu belajar jauh-jauh ke Jepang?

P.S. Cara memilih jurusan untuk S1 hampir sama dengan D3. Intinya, kamu memilih jurusan IPS saja, IPA-a saja, atau IPA-bc saja. Untuk D2, silakan memilih jurusan sesuka hati.

Kak, kalau ijazahnya belum dibagikan, apa boleh daftar pakai SKHU saja?

Tentu saja. Kalau ijazah kamu belum dibagikan, berarti orang-orang lain yang seangkatan dengan kamu juga juga tidak mungkin daftar Monbu pakai ijazah. Dan mengingat tanggal pendaftaran Monbu yang lebih cepat dari pembagian ijazah, tidak ada cara lain, selain kamu daftar memakai SKHU.

-madhand-

Adventurous Fool

Posted: 1 October 2011 in Life in Japan

Waktu itu sepertinya memang sudah tidak tertahankan lagi. Berpisah dengan teman-teman setanah air, pindah ke lingkungan baru yang 99%-nya orang Jepang dengan berbekal bahasa Jepang kelas upil, kagalauan akhirnya memaksa saya untuk ‘kabur’ ketika liburan Golden Week tiba. Tentu saja ini hanya sebuah aksi spontan. Mana ada orang galau yang mau pusing-pusing merencanakan liburan. Akhirnya, setelah semalam sebelumnya saya browsing sedikit, pergilah saya ke tempat wisata orang galau: pulau terpencil dengan curah hujan tinggi di selatan Kyushu, Yakushima.

Yakushima berjarak sekitar ¥5000 by ferry dari Pulau Kyushu. Perjalanannya sekitar 4 jam, bisa lebih cepat, kalau Anda rela bayar lebih. Di dalam ferry tersedia guide book gratis untuk para traveler: peta, info penginapan, restoran, aktivitas yang bisa kita lakukan di sana, lengkap dengan harganya. Tapi saya kurang tertarik dengan kegiatan “let’s explore nature” yang ditawarkan. Pertama, alasan klise, mahal. Saya tidak rela menghabiskan Rp 1 juta hanya untuk mendayung di sungai arus tenang bersama ibu-ibu PKK Jepang. Selain itu, saya punya kegiatan sendiri: saya akan bersepeda mengelilingi pulau! Menurut website tentang Yakushima, kita bisa memutari pulau dengan sepeda dalam 8 jam. Tapi karena penulisnya orang bule, yah, saya mungkin molor sampai 10-11 jam.

Demikianlah, hal pertama yang saya lakukan ketika tiba di Yakushima adalah mencari tempat rental sepeda. Tidak perlu jalan terlalu jauh dari pelabuhan, saya menemukan salah satunya. Tapi betapa kecewanya saya ketika melihat sepeda-sepeda yang disewakan. Bukan karena sepedanya butut atau bagaimana, sebaliknya, sepeda-sepedanya masih terlihat baru dan keren. Yang buat saya kecewa adalah frame sepeda yang terlalu tinggi. Sehari sebelumnya saya memakai sepeda sejenis, pinjam dari guest house di pulau Kyushu, dan saya mengalami kejadian yang sangat tidak menyenangkan ketika mengerem sepeda sialan itu. Jadi akhirnya saya memutuskan untuk naik bus dulu ke tempat camping di selatan Pulau. Mungkin di sana ada disewakan sepeda yang lebih ramah pada bangsa hobbit macam saya.

Dan saya pun menemukan satu. Agak pendek sih, tapi minimal aman untuk dikendarai. Lalu, dimulailah petualangan saya bersepeda keliling pulau. Saya memilih untuk berangkat ke arah barat, karena jalanan itu ditutup untuk bus, mobil juga jarang yang lalu-lalang. Yes! I’ve got my own road, that’s what I’ve been wishing for. Selain itu, di barat ada air terjun terbesar di Yakushima, ada hutan, ada pantai. Memakai jas hujan di tengah hujan rintik-rintik, dimulailah perjalanan saya berkeliling Yakushima.

Ah, menyenangkan sekali rasanya bersepeda tanpa perlu melipir-melipir ke sisi jalan takut tertabrak mobil. Hujan turun agak lebih deras sekarang, jas hujan pun jadi tidak berguna, sudah kepalang basah, saya tidak peduli. Saya lebih peduli dengan pemandangan di sekitar saya. Tengok kiri, laut. Tengok kanan, hutan dengan pohon-pohon berusia ratusan tahun. Lihat depan, wow! Bukit-bukit terhalang kabut tipis. Indah sekali. Terlihat misterius dan terkesan agung, mirip pemandangan kuil Airbender di serial kartun Avatar. Sesekali terlihat monyet kecil di tepi jalan, cuma melongo melihat saya lewat. Saya juga sempat beberapa kali melihat rusa, tapi mereka jauh lebih penakut dari monyet, langsung lari ketika saya datang.

Perjalanan ini pasti akan sangat menyenangkan kalau saja saya naik sepeda gunung yang bagus. Ah, bahkan dengan sepeda keranjang yang biasa saya pakai untuk belanja pun, pasti akan berkali-kali lipat lebih menyenangkan. Seperti yang sudah saya bilang, sepeda yang saya pakai itu pendek. Pendek, kecil, jalannya jadi lebih lambat dan lebih berat. Dan sialnya, jalan ke barat itu banyak sekali tanjakannya. Dan sialnya lagi, tanjakannya panjang-panjang. Gear shift sepeda sepertinya cuma hiasan saja, sama sekali tidak berfungsi. Pada akhirnya, saya harus menyerah dan berhenti mengayuh, ganti berjalan kaki sambil mendorong sepeda, berharap cepat-cepat ada turunan lagi. Yah, setidaknya di sini saya benar-benar belajar bahwa jalan itu tidak selamanya tanjakan, ada turunan juga, dan tidak selamanya jalan menanjak itu menyenangkan, terutama jika beban yang dibawa terlalu berat (dalam kasus saya, sepeda).

Dan begitulah seterusnya. Ketika turunan, saya happy lagi, saya kayuh sepeda saya kencang-kencang. Ketika tanjakan, saya manyun lagi, memaki-maki si penulis website yang ngasih info setengah-setengah, tidak memperingatkan soal tanjakan, tidak memberi tips kalau mau keliling pulau sebaiknya ke arah timur, jangan ke barat. Juga tidak lupa saya memaki dinas pariwisata sana, yang menutup jalan hanya untuk bus. Seharusnya jalan juga ditutup untuk sepeda! Dan di tengah-tengah semuanya itu, saya malah terngiang-ngiang terus lagu Titanic. “Far across the distance…” Arrghh!!

Akhirnya saya berhasil keluar dari hutan dan perbukitan, dan sampai di daerah pantai yang jalanannya agak lebih manusiawi. Berapa kilometer sampai akhirnya saya bisa keluar dari jalanan tega di belakang saya? Tiga puluh kilometer! Biasanya naik sepeda tiga kilometer saja, saya sudah tepar. Ini 30 kilometer, belum lagi kehitung jalannya. Memang, kalau survival instinct manusia sudah diuji, dia bisa melakukan hal tidak biasa. Berapa jam yang saya butuhkan untuk bersepeda seperempat keliling pulau? 4 jam! Ah, bule sial. Bisa berkeliling pulau dalam 8 jam, untuk Anda yang kemauannya kuat? Hhh…

Karena tidak mungkin lagi meneruskan ide gila berkeliling pulau yang masih tiga perempat jalan, saya balik lagi ke jalan sebelumnya, berharap bisa cepat sampai ke tempat kemah, dan tidur. 30 kilometres to go!

Perjalanan pulang lebih menyenangkan dari saat berangkat. Ada beberapa tanjakan, tapi turunannya lebih banyak dan lebih panjang. Tanpa perlu capek-capek mengayuh, sepeda saya melaju dengan kencang. Maksud saya, benar-benar kencang. Saya bahkan hampir mengejar mobil yang ada di depan saya.  Dengan tebing di kanan, dan jurang di kiri, adrenalin saya benar-benar terpacu. Dan seperti yang biasa dilakukan banyak orang di saat seperti ini, saya cuma bisa berteriak “Mamaaah….!!”

-madhand-

Diary: Tanda Jejak

Posted: 5 May 2011 in Uncategorized

Apa yang muncul dalam pikiran kamu saat mendengar kata “diary”? Teringat kenangan teman sekelas SD yang membawa buku diary ke sekolah terus ‘kebaca’ oleh teman-temannya dan berakhir dengan si anak mewek gara-gara rahasia cinta pertamanya terbongkar? Atau tanpa berpikir langsung mengernyit bibir “Duh, diary… Buku curhat. Cupu!”? Atau jadi teringat lagu jadulnya M2M dan Ratu, Dear Diary? Atau malah teringat sama coklat Diary Milk? (Iya, tahu. Dairy Milk. Iya, tahu. Garing.)

Diary yang dihantui image “too girly”-nya menjadi sulit untuk populer di kalangan pria pejantan tangguh. Di kalangan wanita juga, cool-woman-wanna-be pastinya akan menganggap menulis diary hanya akan menurunkan kadar keren dalam dirinya, lagi-lagi karena image “too girly” yang entah nempel sama si diary ini sejak kapan. Dan tentu saja, yang ini sudah tidak terbantahkan lagi, diary sama sekali tidak populer di kalangan mereka yang beralasan kalau diary cuma buang-buang waktu, masih banyak hal lain yang bisa dikerjakan, dan bleh-bleh-bleh ­– mereka yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia termasuk dalam kategori pemalas, mereka yang segolongan dengan saya.

Sejak kecil saya tidak pernah menulis diary. Saya sempat membeli beberapa buku diary, karena covernya yang lucu dan kertasnya yang berwarna-warni, tapi di tangan saya buku-buku diary tersebut berakhir menjadi buku catatan matematika dan catatan ekskul pramuka. Saya tidak pernah menganggap menulis diary itu penting, atau coretlah kata penting, minimal bisa berguna untuk nanti. Bagi saya saat itu, matematika lebih berguna, tri satya dan dasa dharma lebih berguna. Tapi saya keliru. Diary bisa berguna, dan dalam kasus saya, bisa sangat berguna.

Kapan saya menyadari hal ini? Yaitu ketika saya iseng-iseng membuka blog yang saya tulis satu tahun yang lalu. Ada satu tulisan yang bercerita tentang pengalaman saya, lebih tepatnya pemikiran saya, saat pertama memutuskan datang ke Jepang. Tanggal postingannya tepat satu tahun yang lalu: 5 May 2010. I was shocked. Saya seperti membaca tulisan orang lain. Bagaimana mungkin saya pernah menulis seperti ini? Saya pernah berpikir seperti ini? Ini saya satu tahun yang lalu? Yang benar saja! pikir saya. Saya yang akhir-akhir ini sering berpikir “What the hell am I doing here?”, membaca tulisan itu rasanya seperti ditonjok. Dibangunkan. Disadarkan. Bukan oleh siapa, tapi oleh saya satu tahun yang lalu, yang impiannya masih fresh, semangatnya masih utuh. Bayangkan jika kamu menemukan tulisan semasa SMA, yang masih belum mengenal logika dalam bermimpi, walaupun impianmu sekarang sudah berbeda dengan impian saat SMA, saya yakin kamu akan menemukan sesuatu. Mereka bilang pencerahan. Saya bilang tonjokan.

Bayangkan kamu pergi ke sebuah daerah – kota besar atau hutan belantara, silahkan bayangkan sesukamu. Tujuanmu sudah jelas. Misalnya, lapar, ingin pergi ke restoran enak – atau, ingin melihat air terjun. Tidak ada peta. Tentu saja tidak ada peta. Karena itu jangan berharap jalanmu lancar sampai tujuan tanpa tersesat. Tapi ada cara agar kamu tidak tersesat terlalu jauh, ada cara agar kamu tidak usah berputar di tempat yang sama, frustasi, dan akhirnya berhenti. Ya, buat tanda jejak. Tandai tempat yang sudah kamu lewati. Tahu asal, tahu tujuan, langkahmu akan lebih ringan dan lebih tegap.

Si “buku curhat” bisa menjadi tanda jejak yang sangat berguna – mengingatkanmu ketika kamu lupa baru sedekat apa kamu berjalan atau sudah sejauh apa kamu berjalan, dan akan sangat tidak keren jika kamu berhenti sekarang.

Jika kamu belum membuatnya, buatlah Tanda Jejak-mu mulai dari sekarang. Terserah mau kamu namakan apa: diary, jurnal, blog. Pikiranmu sekarang, tulislah. Rasa frustasi, pengharapan, kegagalan, impian, atau cerita hidupmu sehari-hari. Karena mungkin itu akan berguna. Bukan sekarang, tapi nanti di masa depan, lima atau sepuluh tahun dari sekarang kisah sedihmu hari ini mungkin akan kamu baca dengan senyum kemenangan, impianmu hari ini tanda jejak untukmu di masa depan. Tulislah. Semacam surat untukmu di masa depan.

-madhand-

Choosing to Have a Happy Life

Posted: 2 June 2010 in Quote

Live your life just like what you do when you’re taking photos. Always trying to see from the best point-of-view.

-madhand