Apa enaknya pergi ke negara yang orang-orangnya ‘ga ngeh’ sama bahasa Indonesia? Yep, bisa bebas ngomong apaaa saja. Kamu mau ngomongin hal-hal aneh di siang bolong, bisa. Mau ngomong bodoh kayak “Aduh pengen kue itu, tapi kalorinya banyak. Aduh tapi pengen, eh liat dompet dulu, tapi eh…” ga bakalan ada yang nge-ckckck-in kamu deh, kecuali kalau pas kamu begitu saya kebetulan lewat. Mau bilang makanan restoran ga enak dan porsinya terlalu kecil tepat di depan muka pelayannya, bisa! – kalau saya pribadi sih, jangankan di negara asing, di Indonesia juga sudah begitu. Bayar gitu lho!
Tapi ya, yang paling enak di antara semua privileges yang bisa kamu dapat jika pergi ke tempat yang jauh dari khatulistiwa, kamu bisa bebas ngomongin orang, ngga perlu main belakang-belakangan, ngga perlu main bisik-bisikan, langsung ngomong di depan orangnya – ngga baik ngomongin orang dari belakang. I know it’s childish, but you don’t wanna miss the fun. Kapan lagi kita bisa begitu?
Di suatu tanggal di bulan Desember, saya sedang naik kereta hendak pergi ke Shibuya. Jangan “wuih” dulu, cuma mau window shopping kok, saya yakin sekali pas bulan Desember sedang tak ada uang, lagipula kapan saya pernah tidak bokek (meratap dulu). Lalu ada mbak Nihonjin (orang Jepang) masuk gerbong, dan karena tidak kebagian tempat duduk, dia berdiri di depan saya. Kebetulan waktu itu dia sedang memakai rok mini. Saya memulai percakapan, “Mbak, roknya pendek banget.” – pura-pura lihat poster iklan – “Ngga dingin ya? Ya ampun, kulitnya sampai merah-merah begitu lho Mbak.” Iya, tahu, ga jelas, tapi yang penting batin ini terpuaskan.
Kadang-kadang kalau sedang bosan menunggu dan tidak ada kerjaan lain, saya dan teman seringkali men-dubbing obrolan Nihonjin yang suliweran di jalan, mulai dari om-om kantoran, anak kecil, sampai pasangan yang sedang bertengkar. Dan di antara semua objek dubbing-an, tentu saja kami sangat menikmati yang terakhir. Oh, drama! Tapi hati-hati, siapa tahu orang yang kamu omongin mengerti bahasa Indonesia, seperti kejadian yang pernah dialami beberapa teman saya. Lagi asik-asik komentar tentang Nihonjin (look alike) yang baru masuk toko, eh orangnya balas “Oh.. gitu ya. Asalnya darimana, Mbak?” Nah lho. Makan tuh cupu!
Apa enaknya pergi ke negara yang berbeda rasnya dengan kita? Kita langsung dikenali sebagai orang asing – dan Jepang adalah negara yang termasuk toleran terhadap orang asing, terutama di kota-kota besar seperti Tokyo dan Osaka. Kamu bisa melakukan apa saja, modalnya ya itu, ga-tahu-malu. Mau nyanyi-nyanyi di jalan, silahkan. Mau pakai piyama belanja ke Tesco, silahkan! – I did it once. Mau pakai baju nabrak sana-nabrak sini, silahkan, pasti bakal ketemu kok dengan orang yang lebih parah di jalan. Atau janjian dengan teman, pakai baju merah-kuning-hijau macam lampu lalu lintas, your choice!
Salah satu kejadian paling malu-maluin dilakukan teman saya saya saat naik kereta di sekitar Tokyo. Ucuup… gw tahu lw capek, oke, ngerti kalau lw ngantuk, tapi please, jangan tiduran di lantai kereta. Getahnya, dia diberi ceramah gratis oleh Nihonjin saat turun dari kereta. Rasakan itu! Intinya, makin kamu ga-tahu-malu, makin kamu ga mengerti bahasa Jepang, makin bagus. Asal harus tahu batas, jangan keterlaluan. Karena ga-tahu-malu, lalu buang sampah sembarangan, menerobos antrian, itu sudah keluar batas. Ya, malu-maluinnya yang having fun lah, sekadar buat ketawa-ketiwi with the gank. Jangan lupa juga kalau kamu itu tamu, ada budaya yang harus kamu hargai dan ada nama baik bangsa yang harus kamu jaga.
-madhand-
